Dalam pengasuhan, percakapan ayah-anak dapat menjadi ruang untuk memberi perhatian pada sisi emosional dan sosial anak. Pengasuhan sendiri mencakup dukungan fisik, intelektual, emosional, dan sosial [1]. Di papajp68, pembahasan tentang percakapan yang terbuka berangkat dari tiga hal sederhana: mendengarkan, bertanya dengan memberi ruang, dan menyediakan waktu untuk menuntaskan cerita.

Mendengarkan sebelum mengambil alih

Saat anak mulai bercerita, ayah bisa menahan dorongan untuk segera menyela dengan nasihat, koreksi, atau kesimpulan. Dengarkan dulu pokok ceritanya; setelah itu, tanggapi bagian yang memang ingin dibahas anak. Sikap ini memberi giliran bagi anak untuk menyampaikan pendapat, bukan hanya menjawab pertanyaan orang tua.

Dalam uraian tentang pola asuh otoritatif, orang tua mendukung kemandirian anak, tetap memberi batas, dan saling menyampaikan serta menerima pendapat dengan sikap penyayang dan ramah [1]. Mendengarkan tidak mengharuskan ayah selalu setuju. Namun, anak perlu mendapat kesempatan untuk menjelaskan pikirannya sebelum percakapan beralih ke penilaian atau solusi.

Pertanyaan yang membuka cerita

Pertanyaan yang terlalu cepat mengarah pada jawaban tertentu bisa membuat percakapan terasa seperti pemeriksaan. Sebagai pilihan, ayah dapat bertanya, "Bagian mana yang paling ingin kamu ceritakan?" atau "Kamu ingin ayah mendengarkan dulu, atau ikut memikirkan jalan keluarnya?" Contoh ini bukan rumus; gunanya adalah memberi anak pilihan tentang bagaimana percakapan berlangsung.

Jika jawabannya singkat, ayah tidak harus buru-buru mengisi jeda dengan pertanyaan baru. Menunggu sejenak, mengulang inti yang sudah didengar, atau bertanya, "Ayah menangkapnya begini, benar begitu?" dapat membantu menjaga percakapan tetap terarah tanpa menebak-nebak maksud anak.

Waktu yang cukup untuk bercerita

Meluangkan waktu tidak selalu berarti membuat sesi khusus yang panjang. Ayah bisa memilih momen yang realistis untuk memberi perhatian tanpa terburu-buru. Jika belum bisa menyimak saat itu, kalimat yang jelas seperti "Setelah aku selesai menyiapkan makan, kita lanjut cerita" lebih konkret daripada sekadar mengatakan "nanti". Setelah itu, tepati waktu yang dijanjikan.

Waktu juga berarti memberi ruang sampai anak selesai menjelaskan, bukan hanya hadir di dekatnya sambil menunggu giliran untuk berbicara. Bila percakapan terpaksa berhenti, ayah dapat menyebutkan bahwa cerita itu belum selesai dibahas dan mengajak anak melanjutkannya pada waktu yang disepakati.

Hangat, tetapi tetap punya batas

Percakapan terbuka bukan berarti semua keinginan anak harus disetujui. Ayah dapat menerima pendapat anak sekaligus menjelaskan batas dengan tenang. Misalnya: "Ayah paham kamu ingin memilih itu. Untuk hal ini, batasnya begini; kita bisa mencari pilihan lain." Ini contoh kalimat, bukan percakapan nyata.

Pembedaan itu penting karena pola asuh otoritatif menggabungkan dukungan terhadap kemandirian dengan batas tindakan, sedangkan pola asuh otoriter digambarkan lebih kaku dan komunikasinya kurang terjalin [1]. Jadi, mendengarkan bukan berarti melepas peran sebagai orang tua. Ayah tetap dapat memberi arahan, sambil memastikan anak punya giliran untuk bercerita dan memahami alasan di balik batas yang ditetapkan.

Ketika anak bercerita, mendengarkan sampai tuntas, mengajukan pertanyaan yang tidak menggiring, dan menyediakan waktu yang jelas memberi bentuk pada perhatian. Bukan setiap obrolan harus berakhir dengan solusi; terkadang percakapan yang baik dimulai dengan anak merasa ceritanya benar-benar didengar.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Pengasuhan anak. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28395465&title=Pengasuhan_anak (diakses 2026-10-17).